Anak terlantar adalah anak yang tidak mendapatkan perawatan, perlindungan dan pengasuhan dari orang tua atau wali, sehingga anak-anak tersebut tidak memiliki kehidupan yang layak atau terabaikan. Hal ini dapat terjadi karena berbagai hal, seperti masalah ekonomi, kelalaian, kekerasan atau masalah keluarga lainnya. Data anak terlantar sendiri di kota Medan pada tahun 2020 sendiri sebanyak 127 orang, berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Kota Medan banyak anak terlantar ditemukan di kawasan organisasi padat dan pinggiran kota. Namun, berdasarkan informasi yang tersedia dari instansi terkait seperti Dinas Sosial Kota Medan, jumlah anak terlantar dapat bervariasi setiap tahun, tergantung pada berbagai faktor seperti kondisi sosial-ekonomi, bencana alam, dan lain-lain. Anak terlantar tersebut membutuhkan perlindungan dan keamanan, pendidikan dan tempat tinggal yang aman dan terlindung dari bahaya dan penyembuhan secara psikologis. Panti asuhan merupakan salah satu solusi untuk dapat menampung anak terlantar. Namun, sebagian besar yang tinggal di panti asuhan mengalami depresi, kesedihan, susah untuk menyesuaikan diri. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan, terjadi eksploitasi dan fasilitas yang tidak memenuhi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi kebutuhan sosial, fisik, dan psikologis anak-anak terlantar. Dengan demikian, desain Pusat Rehabilitasi Anak Terlantar yang mengadopsi pendekatan arsitektur Andra Matin diharapkan dapat menyediakan lingkungan yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih humanis dan efektif dalam mendukung kesejahteraan anak-anak terlantar.
Copyrights © 2025