Legenda Badang dari Kepulauan Riau memuat nilai keberanian, kesederhanaan, dan koneksi manusia‑laut yang semakin tergerus arus konten global. Studi konsumsi media terbaru menyatakan 71–88 % Gen Z Indonesia menghabiskan >5 jam setiap hari pada platform visual‑pertama seperti TikTok dan Instagram, sehingga dibutuhkan strategi pelestarian budaya yang relevan dengan ekologi digital tersebut. Penelitian ini merancang karakter Badang sebagai duta visual budaya lokal dengan menggabungkan kerangka penciptaan karakter Bryan Tillman, teori visual distinction Scott McCloud, dan harmoni warna Johannes Itten. Metode penelitian menerapkan pendekatan R&D (research and development) yang mencakup (1) studi literatur dan eksplorasi visual, (2) iterasi desain karakter berbasis focus‑group, (3) prototyping figur 3D via additive manufacturing, dan (4) uji preferensi Gen Z (n = 45) terhadap aspek estetika dan representasi budaya. Hasil menunjukkan varian kostum hijau‑merah‑emas dengan ornamen flora‐laut memperoleh skor daya tarik 4,6/5 dan skor relevansi budaya 4,7/5, jauh melebihi opsi monokrom (p < 0,01). Konfigurasi pencetakan PLA 0,1 mm | infill 50 % menghasilkan detail optimal dengan biaya ±Rp 42 000 per unit. Temuan ini menegaskan bahwa desain karakter—didukung teknologi 3D printing—dapat menjadi strategi efektif pelestarian budaya lokal di era digital serta membuka peluang komersialisasi IP melalui figur kolektibel, motion‑comic, dan metaverse.
Copyrights © 2025