Tulisan ini mengkaji perayaan Hari Tari Dunia melalui program 24 Jam Menari yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dengan fokus pada bagaimana tradisi seni tari dipertahankan dan ditransformasikan dalam konteks globalisasi. Mengusung tema “Land of Thousand Kingdoms”, peristiwa ini menjadi arena kontemporer bagi pelestarian identitas budaya yang bersumber dari kerajaan dan komunitas adat di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif reflektif untuk mengamati keterlibatan berbagai pelaku dalam kegiatan tersebut, tergerakkan oleh ekosistem yang solit daripelaku tari dan non tari, sebagai bagian dari ekosistem budaya yang bekerja secara kolektif. Temuan menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menampilkan keberagaman gerak tari nusantara, tetapi juga membentuk ruang partisipatif yang merayakan ketubuhan sosial, kerja kolektif, serta kesadaran budaya lintas generasi. Di tengah arus globalisasi, 24 Jam Menari berfungsi sebagai strategi budaya yang memperkuat keberlanjutan tradisi melalui pendidikan seni, keterlibatan masyarakat, dan infrastruktur pertunjukan. Kegiatan ini menegaskan bahwa seni tari bukan sekadar praktik estetis, tetapi juga wacana sosial dan politik yang relevan dalam menjawab tantangan zaman.
Copyrights © 2025