Tujuan artikel ulasan ini adalah untuk menyusun peta komprehensif tentang bagaimana warisan tafsir klasik (al-Tabari, al-Qurtubi, Ibnu Katsir, dan Fakhr al-Din al-Razi) berkontribusi pada kelahiran, pola, dan praktik tafsir tarbawi yang digunakan dalam pendidikan Islam saat ini. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan sintesis naratif terhadap karya-karya interpretatif klasik dan penelitian kontemporer yang mengaktualisasikannya dalam kerangka tarbiyah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Secara historis, prinsip-prinsip tarbawi seperti penanaman tauhid, penguatan literasi, dan pembangunan akhlak telah melekat dalam interpretasi klasik; (2) mufassir klasik menyajikan spektrum metodologis yang melengkapi sejarah (bil-ma'tsur), rasionalitas, fiqh al-ahkam, dan cerita-cerita yang saat ini menjadi dasar pendekatan tematik-pedagogis; (3) tiga kelompok ayat kunci (QS al-'Alaq 1–5; QS Luqman 12-19; QS al-An'am 151) menceritakan secara konsistensi dengan konten pendidikan yang dapat diterjemahkan ke dalam tujuan pembelajaran, isi, dan penilaian; dan (4) menyusun model integrasi '4I' (I'tiqad–Sains–Ihsan–Ijtima'i) untuk membantu dosen/guru merancang pengalaman belajar Al-Qur'an kontekstual. Artikel ini memberikan pemahaman praktis berupa contoh indikator prestasi belajar, rubrik penilaian karakter, dan strategi pembelajaran berbasis cerita yang mengandalkan penafsiran klasik. Batasan utama penelitian ini adalah ketergantungan pada sumber sekunder; Oleh karena itu, studi lapangan di madrasah dan PTKI disarankan untuk memvalidasi efektivitas model 4I dalam praktik. Tujuan artikel wawasan ini adalah menyusun peta komprehensif tentang bagaimana warisan tafsir klasik (al-Tabari, al-Qurtubi, Ibnu Katsir, dan Fakhr al-Din al-Razi) berkontribusi pada lahirnya, corak, dan praktik tafsir tarbawi yang digunakan dalam pendidikan Islam masa kini. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan sintesis naratif terhadap karya-karya tafsir klasik dan penelitian kontemporer yang mereaktualisasikannya dalam kerangka tarbiyah. Hasil kajian menunjukkan: (1) Secara historis, prinsip-prinsip tarbawi seperti penanaman tauhid, penguatan literasi, dan pembinaan akhlak sudah melekat dalam tafsir klasik; (2) para mufassir klasik menyajikan spektrum metodologis yang saling melengkapi sejarah (bil-ma'tsur), rasionalitas, fiqh al-ahkam, dan kisah yang hari ini menjadi landasan pendekatan tematik-pedagogis; (3) tiga gugus ayat kunci (QS al-'Alaq 1–5; QS Luqman 12–19; QS al-An'am 151) secara konsisten dengan muatan pendidikan yang dapat diterjemahkan ke dalam tujuan, konten, dan asesmen pembelajaran; dan (4) dirumuskan model integrasi '4I' (I'tiqad–Ilmu–Ihsan–Ijtima'i) untuk membantu dosen/guru merancang pengalaman belajar berkarakter Qur'ani yang kontekstual. Artikel ini memberikan pemahaman praktis berupa contoh indikator pencapaian pembelajaran, rubrik penilaian karakter, dan strategi pembelajaran berbasis kisah (story-based learning) yang bersandar pada tafsir klasik. Batasan utama kajian ini adalah ketergantungan pada sumber sekunder; oleh karena itu studi lapangan di madrasah dan PTKI disarankan guna memvalidasi efektivitas model 4I dalam praktik.
Copyrights © 2025