Indonesia Medicus Veterinus
Vol. 14 No. 1 (2025)

Kajian Pustaka: Demam Keong atau Schistosomiasis pada Hewan dan Manusia

I Made Beratha Mukti (Program Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)
Rima Nurmayani (Program Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)
Martin Pedro Krisenda Resman (Program Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)
Laras Ayu Nadira (Program Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)
Vinesia Ghona Gani (Program Profesi Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)
I Wayan Batan (Laboratorium Diagnosis Klinik, Patologi Klinik, dan Radiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234)



Article Info

Publish Date
31 Jan 2025

Abstract

PENDAHULUAN: Schistosomiasis adalah penyakit parasit zoonosis dengan siklus penularan yang sangat kompleks.  Cacing daun Schistosoma tersebar di beberapa negara dengan spesies yang berbeda-beda, yakni, Schistosoma (S.) haematobium di 53 negara di Timur Tengah dan Afrika termasuk Mauritus dan Kepulauan Madagaskar; S. mansoni ditemukan pada 54 negara termasuk Afrika, Timur Tengah, Karibia dan Amerika Selatan; S. mekoni ditemukan di daerah Kamboja dan Laos; S. intercalatum ditemukan di daerah hutan lindung dan Afrika Tengah, serta; S. japonicum endemik di Cina, Filipina, dan Indonesia.  Schistosomiasis di Indonesia endemik di tiga daerah dataran tinggi yang relatif kecil dan terisolasi di sekitar Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.  Daerah tersebut meliputi rawa-rawa di sekitar Danau Lindu, khususnya di Desa Anca, Langko, Tomado, dan Puro'o.TUJUAN: Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk memberi penjelasan mengenai penyakit schistosomiasis.METODE: Metode yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah penelusuran literatur menggunakan buku, jurnal, dan artikel yang bersumber dari beberapa pangkalan data.HASIL: Gejala yang muncul akibat dari schistosomiasis adalah perut membesar, nafsu makan berkurang, selaput lendir mata pucat, anemia, lesu, sesak napas, mencret, bahkan biasanya terjadi kejang-kejang dan bila akut dapat menyebabkan kematian.  Metode diagnosis yang tersedia untuk mendiagnosis schistosomiasis, di antaranya pemeriksaan coproparasitological (CopE), diagnostik molekuler, dan imunologis.  Pencegahan penularan penyakit schistosomiasis yang paling utama adalah dengan pemberantasan terhadap keong Oncomelania huspensis karena keong tersebut merupakan inang atau perantara penyakit schistosomiasis dari satu manusia ke manusia lainnya.SIMPULAN: Penyakit schistosomiasis merupakan penyakit parasit zoonosis yang terdapat di beberapa negara, termasuk Indonesia.  Cacing S. japonicum merupakan spesies yang ditemukan di Dataran Tinggi Napu dan Bada, Kabupaten Poso, serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penyakit ini dapat menyebabkan beberapa gejala klinis hingga kematian.

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

imv

Publisher

Subject

Biochemistry, Genetics & Molecular Biology Immunology & microbiology Public Health Veterinary

Description

Indonesia Medicus Veterinus accepts scientific articles related to the field of veterinary medicine and animal health. Manuscripts relating to animals and all their aspects are also accepted for publication. The article must have a minimum of two authors. A manuscript written by only one author ...