Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis alasan mengapa Perusahaan Hindia Timur Inggris (EIC) mempertahankan kekuasaannya di Bengkulu selama periode 1685-1824. Pertanyaan penelitian dalam studi ini adalah: apa faktor utama yang mendorong Inggris untuk tetap berada di Bengkulu? Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan politik-ekonomi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor utama di balik keteguhan EIC di Bengkulubukan hanya karena keuntungan ekonomi dari perdagangan ladantuk mempertahankan hegemoni dan prestise dalam persaingan dengan Belanda di kepulauan Indonesia. Lada di Bengkulu menjadi simbol politik dan perpanjangan tangan EIC di wilayah tersebut. EIC tetap berada di Bengkulu hingga Perjanjian London tahun 1824, yang menandai berakhirnya kekuasaannya di Bengkulu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dimensi politik dan prestise kolonial dapat menjadi faktor strategis yang sama kuatnya dengan motif ekonomi dalam mempertahankan wilayah kolonial.
Copyrights © 2026