Abstract. A Rapid urbanization in Indonesian cities has reduced the availability of safe and inclusive public spaces for children, particularly in dense residential areas. Although the Child-Friendly City policy has been implemented, its application at the neighborhood scale remains uneven. This study aims to evaluate the quality of a child-friendly neighborhood in Giwangan Urban Village, Yogyakarta City, as a representation of dense urban settlements. The research adopts a Child-Friendly Urban Planning approach combined with the concept of the right to the city. A qualitative descriptive method was employed through field observations and short interviews, using an evaluation instrument consisting of 30 indicators grouped into five categories: play spaces, safety, children’s activities, parental and community roles, and digital access and policy support. The findings indicate that 22 out of 30 indicators were fulfilled, resulting in an achievement rate of 73.33%, which is classified as high quality. While basic physical facilities are generally available, significant limitations persist in children’s mobility, inclusivity, participation, and the effectiveness of local programs and policies. This study contributes a neighborhood-scale evaluation framework for child-friendly environments and highlights the importance of incorporating children’s lived experiences in assessing urban space quality. Abstrak. Pesatnya urbanisasi di kota-kota Indonesia berimplikasi pada berkurangnya ruang publik yang aman dan inklusif bagi anak, terutama di kawasan permukiman padat. Meskipun kebijakan Kota Layak Anak telah diterapkan, implementasinya pada skala lingkungan permukiman masih menunjukkan kesenjangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas kawasan ramah anak di Kelurahan Giwangan, Kota Yogyakarta, sebagai representasi kawasan permukiman padat perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan Child-Friendly Urban Planning yang dipadukan dengan konsep right to the city. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan wawancara singkat, dengan instrumen evaluasi berupa 30 indikator yang dikelompokkan ke dalam lima kategori, yaitu ruang bermain, keamanan, aktivitas anak, peran orang tua dan komunitas, serta akses digital dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 dari 30 indikator terpenuhi, dengan tingkat pemenuhan sebesar 73,33% yang dikategorikan sebagai kualitas tinggi. Temuan mengungkap bahwa ketersediaan fasilitas fisik dasar relatif memadai, namun masih terdapat kelemahan pada aspek mobilitas anak, inklusivitas, partisipasi, serta dukungan program dan kebijakan di tingkat lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa kerangka evaluasi kawasan ramah anak pada skala lingkungan permukiman serta menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis pengalaman anak dalam menilai kualitas ruang kota.
Copyrights © 2025