Perubahan tutupan lahan menjadi salah satu faktor utama penyebab degradasi ekosistem dan penurunan keanekaragaman hayati di tingkat lokal maupun regional. Kabupaten Jembrana, sebagai bagian dari bentang alam Bali Barat yang kaya biodiversitas, menghadapi tekanan ekologis akibat konversi lahan dan peningkatan aktivitas antropogenik selama dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan dan kerapatan vegetasi, menilai hubungan antara degradasi vegetasi dengan keanekaragaman hayati terestrial, serta mengkaji implikasinya terhadap risiko bencana ekologis. Analisis dilakukan menggunakan citra satelit Landsat-8 OLI/TIRS tahun 2014, 2018, dan 2023 dengan pendekatan klasifikasi spasial dan indeks vegetasi (NDVI), dikombinasikan dengan data biodiversitas dari KLHK dan RPPLH Kabupaten Jembrana 2025–2055. Hasil penelitian menunjukkan penurunan tutupan hutan sebesar 3,14% dan peningkatan lahan terbangun sebesar 2,06% selama periode tersebut. Nilai rata-rata NDVI menurun dari 0,62 menjadi 0,45, sejalan dengan penurunan indeks keanekaragaman flora dari kategori tinggi menjadi sedang. Analisis spasial menunjukkan bahwa wilayah dengan degradasi vegetasi tinggi—terutama Kecamatan Melaya dan Mendoyo—berkorelasi dengan peningkatan risiko banjir dan longsor. Temuan ini mengindikasikan bahwa degradasi lahan, penurunan biodiversitas, dan risiko bencana ekologis saling berhubungan erat dalam sistem ekologi daratan. Pengelolaan lingkungan berbasis Nature-Based Solutions dan restorasi vegetasi lokal direkomendasikan untuk menjaga daya dukung ekologis dan ketahanan lingkungan Jembrana di masa depan.
Copyrights © 2025