Penelitian ini bertujuan untuk menentukan teknik pengelasan yang optimal antara MIG (Metal Inert Gas) dan TIG (Tungsten Inert Gas) dalam proses produksi rangka bus di PT. Laksana Bus Manufaktur. Metode yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan mempertimbangkan tiga kriteria utama, yaitu kekuatan sambungan, efisiensi biaya, dan durasi waktu pengerjaan. Berdasarkan hasil perhitungan AHP, teknik MIG memperoleh bobot global sebesar 0,5863, lebih tinggi dibandingkan TIG yang hanya 0,3900. Kekuatan sambungan menjadi kriteria paling dominan dengan bobot 0,6333. Hasil ini menunjukkan bahwa teknik MIG lebih optimal untuk digunakan dalam skala produksi besar, meskipun TIG tetap relevan untuk aplikasi yang membutuhkan presisi tinggi. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi industri karoseri dalam menentukan metode pengelasan secara kuantitatif dan objektif.Kata Kunci: pengelasan MIG, pengelasan TIG, AHP, pemilihan teknik, karoseri
Copyrights © 2025