Tulisan ini mengkaji hubungan ontologis antara alam dan manusia dengan menggunakan filsafat Maurice Merleau-Ponty sebagai kerangka analisis utama. Kerusakan ekologis yang terjadi dewasa ini seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, polusi udara, dan pemanasan global mencerminkan kerenggangan relasi manusia dengan alam yang berakar pada pola pikir antroposentris, materialistis, saintistik, dan konsumtif. Cara pandang ini memisahkan manusia dari alam dan menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi demi keuntungan manusia. Merleau-Ponty menawarkan perspektif fenomenologis bahwa manusia adalah pengada bertubuh embodied being yang keberadaannya selalu terjalin secara koeksistensial dengan dunia. Melalui kesadaran prereflektif dan intensionalitas operatif, Merleau-Ponty memperlihatkan bahwa tubuh manusia bukan sekadar entitas biologis, melainkan medium yang memungkinkan manusia menghadapi, mengalami, dan menyatu dengan dunia. Dalam kerangka ini, manusia dan alam merupakan kesatuan ontologis yang tidak dapat dipisahkan; tubuh manusia hadir di dalam dunia sebagaimana dunia hadir dalam tubuh. Dengan demikian, tindakan merusak alam secara ekologis dan struktural berarti juga merusak struktur eksistensi manusia itu sendiri. Tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pemulihan hubungan manusia dan alam memerlukan perubahan paradigma dari cara pandang yang dualistik dan objektifikatif menuju kesadaran akan kebertubuhan manusia di dalam dunia. Dengan memahami kembali diri sebagai bagian integral dari alam, manusia dapat mengembangkan sikap ekologis yang lebih bertanggung jawab. Tulisan ini disusun melalui metode kualitatif studi pustaka berdasarkan buku, jurnal, esai dan artikel ilmiah yang relevan.
Copyrights © 2025