Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya kajian yang menyoroti dimensi esoteris dalam penafsiran kisah Nabi ‘Īsā a.s. yang selama ini lebih banyak dibahas dari sudut pandang teologis, rasional, dan historis. Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk dan corak pendekatan isyārī diterapkan oleh Ismail Haqqi Bursawī dalam menafsirkan kisah Nabi ‘Īsā, serta bagaimana makna sufistik yang terkandung di dalamnya memperluas pemahaman terhadap kisah kenabian dalam Al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap corak dan karakteristik tafsir sufistik moderat yang ditampilkan dalam Tafsir Rūḥ al-Bayān serta menunjukkan kontribusinya terhadap perkembangan penafsiran Al-Qur’an yang menggabungkan makna lahiriah dan batiniah secara harmonis. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif berbasis analisis teks, penelitian ini menemukan bahwa Bursawī mengintegrasikan pendekatan sufistik dengan unsur linguistik, teologis, dan moral secara seimbang. Melalui pendekatan isyārī-nya, kisah Nabi ‘Īsā dipahami sebagai simbol perjalanan ruhani menuju penyucian jiwa dan kesempurnaan insan. Temuan ini menegaskan bahwa Tafsir Rūḥ al-Bayān merupakan salah satu model tafsir sufistik yang tidak hanya bersifat kontemplatif, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan spiritual yang tinggi yang tetap relevan bagi kajian Al-Qur’an kontemporer.
Copyrights © 2025