Henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) adalah krisis kesehatan dengan tingkat keselamatan yang rendah akibat minimnya intervensi oleh penolong awam. Di Indonesia, insiden OHCA diperkirakan mencapai 30 kasus per 10.000 penduduk dengan tingkat kelangsungan hidup hanya sekitar 8%. Melatih siswa sekolah menjadi penolong pertama adalah strategi kunci untuk membangun resiliensi komunitas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dampak program pelatihan Bantuan Hidup Dasar terhadap pengetahuan, keterlibatan, dan keterampilan dasar siswa di SMPN 1 Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Studi dengan desain intervensi pra-pasca ini bertujuan mengevaluasi dampak pelatihan terhadap pengetahuan dan keterlibatan siswa. Terdiri dari tiga tahap: koordinasi awal, pemberian materi edukasi mengenai pengenalan henti jantung dan teknik BHD, serta sesi praktik resusitasi jantung paru menggunakan manikin. Pengetahuan kualitatif telah meningkat secara signifikan. Siswa tidak tahu banyak tentang BHD sebelum pelatihan. Setelah pelatihan, mereka mulai bertanya pertanyaan kritis yang menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang konsep dan pemikiran kritis tentang mekanisme dan manfaat BHD. Model program ini adalah metode efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatan kognitif siswa sekolah menengah pertama di Indonesia. Model ini memiliki potensi besar untuk memperkuat rantai pertolongan di tingkat komunitas, dan disarankan untuk dimasukkan ke dalam kebijakan kesehatan dan pendidikan nasional.
Copyrights © 2026