Fenomena candaan seksis kerap dianggap sebagai bentuk humor yang lumrah dalam interaksi sosial di tempat kerja, namun pada kenyataannya sering kali mengandung unsur pelecehan dan ketimpangan gender yang terselubung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana pekerja perempuan memaknai pengalaman mereka terhadap candaan seksis di lingkungan kerja. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan perempuan yang bekerja di berbagai sektor formal, dan studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan tahapan analisis fenomenologi menurut Creswell dan Poth, mulai dari deskripsi pengalaman partisipan hingga penemuan makna esensial dari fenomena yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa candaan seksis dimaknai oleh pekerja perempuan dalam tiga bentuk utama. Pertama, candaan seksis dipahami sebagai bentuk pelecehan verbal terselubung. Kedua, candaan seksis dimaknai sebagai wujud kekuasaan dan dominasi maskulin, yang memperlihatkan adanya relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan di ruang kerja. Ketiga, sebagian perempuan menafsirkan candaan seksis sebagai humor atau candaan yang wajar, terutama ketika disampaikan dalam konteks keakraban. Diperlukan peningkatan kesadaran gender, kebijakan organisasi yang responsif, serta ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan ketidaknyamanan terhadap bentuk candaan yang bersifat seksis, sehingga tercipta lingkungan kerja yang lebih setara dan inklusif.
Copyrights © 2025