Globalisasi budaya telah menciptakan ruang baru bagi pertukaran nilai, simbol, dan identitas lintas negara. Dalam konteks ini, musik populer berperan sebagai medium hegemoni sekaligus arena negosiasi makna budaya. Fenomena K-Pop menjadi contoh menonjol dari dinamika tersebut, di mana praktik produksi dan konsumsi musik Korea Selatan merepresentasikan pertemuan antara kekuasaan kultural, hibridisasi, dan partisipasi global. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana K-Pop membangun hegemoni budaya melalui soft power serta bagaimana proses cultural hybridization menjadi strategi sekaligus ruang resistensi dalam lanskap globalisasi kontemporer. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, didukung oleh kerangka teori hegemoni Gramsci dan konsep cultural hybridization serta third space dari Homi K. Bhabha. Hasil analisis menunjukkan bahwa dominasi K-Pop terbentuk melalui konsensus kultural, fan labor, dan strategi glokalisasi yang memungkinkan musik Korea Selatan diterima secara luas di berbagai konteks budaya. Namun, fenomena ini juga mengandung paradoks, di satu sisi K-Pop mencerminkan keberhasilan globalisasi budaya Asia, tetapi di sisi lain tetap mereproduksi relasi kuasa melalui nasionalisme budaya dan hierarki global yang tersisa. Kata Kunci: K-Pop: Hegemoni Budaya; Cultural Hybridization; Soft Power; Globalisasi Budaya.
Copyrights © 2025