Penelitian ini mengkaji dinamika pertemuan budaya dan agama di Desa Trimulyo, Wonosobo, melalui pengalaman Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Universitas Sains Al-Qur’an dengan menggunakan kerangka hermeneutika Paul Ricoeur yang memandang masyarakat desa sebagai teks sosial terbuka untuk ditafsir. Program KPM berfokus pada literasi budaya Islami, verifikasi rumah tidak layak huni, penguatan ekonomi kreatif, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta program kesehatan ODF dan stunting, yang diwujudkan melalui berbagai aktivitas sosial-keagamaan, pendidikan, hingga pembangunan taman lumbung gizi. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi ekspresi sosial di tiap dusun: Kalisat dan Jebengan lebih terbuka dalam memadukan nilai agama dan budaya, sementara Gawaran dan Menggora cenderung lebih ketat, meski dipengaruhi konteks dan kepemimpinan lokal. Perbedaan tersebut tidak dipandang sebagai konflik, melainkan ruang dialog berkelanjutan yang memperkaya identitas kolektif desa. Melalui perspektif hermeneutika, praktik sosial seperti jamaah harian, yasinan, perayaan kemerdekaan, dan interaksi ekonomi dibaca sebagai simbol yang membentuk identitas naratif Trimulyo, di mana budaya dan agama saling menafsir untuk menciptakan identitas dinamis dan adaptif
Copyrights © 2025