Kecamatan Samarang merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Kabupaten Garut yang menghadapi ancaman ekologis berupa degradasi lahan akibat konversi hutan menjadi perkebunan kopi, terutama pada usahatani kopi pola monokultur. Pola agroforestri yang mengintegrasikan prinsip konservasi lahan menjadi alternatif yang potensial untuk menyelesaikan permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan finansial usahatani kopi pola monokultur dan agroforestri di Kecamatan Samarang berdasarkan kriteria kelayakan investasi yaitu Net Present Value (NPV), net Benefit-Cost Ratio (net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan payback period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pola usahatani tersebut layak secara finansial. Dengan discount factor sebesar 14%, usahatani kopi pola monokultur menghasilkan NPV sebesar Rp28.851.760, net B/C 1,54, dan IRR 23,13%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-7. Sementara itu, usahatani kopi pola agroforestri menghasilkan NPV sebesar Rp197.310.592, net B/C 4,54, dan IRR 47,48%, dengan pengembalian modal pada tahun ke-6. Temuan ini mengindikasikan bahwa pola agroforestri tidak hanya lebih menguntungkan secara finansial tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem, sehingga diharapkan dapat menjadi pendekatan alternatif bagi petani dalam mengelola usahatani kopi di Kecamatan Samarang.
Copyrights © 2025