Pasien pasca stroke sering kehilangan rasa kendali dan makna hidup, sehingga membutuhkan ketangguhan psikologis (hardiness) yang dapat diperkuat melalui kesejahteraan spiritual (spiritual well-being). Tujuan: Mengetahui hubungan spiritual well-being dan hardiness pada pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan Tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 77 pasien pasca stroke di Yayasan Tapasya Stroke Centre Amaranee Tabanan yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan Hardiness Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil: Sebagian besar subjek penelitian memiliki spiritual well-being pada kategori sedang sebanyak 50 orang (64,9%) dan dimensi hardiness yang dominan adalah dimensi kontrol sebanyak 49 orang (63,6%). Terdapat hubungan positif yang kuat antara spiritual well-being dan hardiness (r = 0,695; p < 0,000), artinya spiritual well-being menjelaskan 48% varians hardiness. Simpulan: Spiritual well-being berperan penting dalam memperkuat ketangguhan psikologis pasien pasca stroke. Temuan ini mendukung pentingnya integrasi intervensi spiritual dalam program rehabilitasi pasca stroke berbasis pendekatan holistik di komunitas.
Copyrights © 2025