Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konteks historis-sosiologis Kekristenan Indonesia, yang diwarnai stigma kolonial, persekusi sebagai minoritas, dan tantangan teologis seperti pluralisme. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan eksistensial tentang perlunya pembentukan identitas Kristen yang tangguh dan kontekstual. Metode yang digunakan adalah analisis teologis terhadap konsep Munus Triplex (Tiga Jabatan Kristus) dalam Katekismus Heidelberg (Pert. 31-32), dengan mempertimbangkan pemikiran John Calvin, Herman Bavinck, dan khususnya eklesiologi Edmund Clowney yang menerapkan jabatan tersebut kepada gereja. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan kerangka identitas dan misi yang relevan. Hasil temuan menunjukkan bahwa konsep Munus Triplex menawarkan paradigma yang seimbang dan transformatif: gereja dipanggil untuk menjadi Nabi yang menyuarakan kebenaran dan keadilan, Imam yang mendamaikan dan melayani, serta Raja yang memerintah dengan melayani. Penerapan kerangka ini memampukan gereja Indonesia merespons tantangannya dengan identitas yang pro-aktif, berpengharapan, dan relevan, mengubah beban sejarah menjadi kesaksian yang efektif.
Copyrights © 2025