Interaksi sosial merupakan aspek fundamental dalam perkembangan sosial dan emosional anak berkebutuhan khusus (ABK), namun dalam praktiknya masih dihadapkan pada berbagai hambatan, baik yang bersumber dari keterbatasan individu maupun dari lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk interaksi sosial ABK dengan teman sebaya di Kelurahan Tomulabutao Selatan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kualitas interaksi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap anak, orang tua, serta teman sebaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama interaksi sosial ABK meliputi kesulitan memahami konteks sosial, keterbatasan komunikasi verbal, serta hambatan dalam mengekspresikan dan mengelola emosi. Anak yang mampu berbicara masih mengalami kesulitan menyesuaikan perilaku komunikasi, sementara anak dengan keterbatasan verbal cenderung bergantung pada ekspresi nonverbal seperti tangisan, senyuman, dan gerak tubuh. Temuan juga mengungkapkan bahwa pengalaman perundungan dan penolakan sosial berdampak pada rendahnya kepercayaan diri serta kecenderungan menarik diri dari lingkungan. Di sisi lain, dukungan orang tua dan penerimaan teman sebaya terbukti berperan penting dalam menciptakan ruang interaksi yang lebih aman dan inklusif. Teman sebaya yang menunjukkan empati, kesabaran, dan pemahaman mampu membantu ABK terlibat lebih aktif dalam interaksi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan interaksi sosial ABK sangat dipengaruhi oleh sinergi antara kemampuan komunikasi anak dan kualitas dukungan lingkungan sosial berbasis keluarga serta komunitas.
Copyrights © 2026