Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) Lot 3 Blitar berada pada kawasan berbukit dengan kondisi tanah yang bervariasi, sehingga diperlukan analisis stabilitas lereng yang akurat untuk menjamin keamanan konstruksi. Perbedaan nilai faktor keamanan (Factor of Safety/FoS) antar metode analisis dapat memengaruhi keputusan desain, terutama pada proyek infrastruktur berskala besar. Selain itu, ketidakstabilan lereng berpotensi menimbulkan risiko keselamatan, kerugian material, dan penundaan konstruksi jika tidak ditangani dengan tepat. Penelitian ini bertujuan membandingkan nilai FoS antara Metode Bishop Simplified dan Metode Janbu Simplified menggunakan software Rocscience Slide 6.0 berdasarkan beberapa section lereng dan tiga kondisi analisis, yaitu kering, jenuh, dan berbeban. Pemodelan dilakukan menggunakan geometri desain dan parameter tanah hasil investigasi lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Metode Bishop memberikan nilai FoS lebih tinggi dibandingkan Metode Janbu, dengan selisih 1,40%–31,15% pada analisis per section, di mana area paling kritis berada pada section 3 yang membutuhkan perhatian khusus dalam perencanaan perkuatan lereng. Pada analisis full section, perbedaan FoS antara kedua metode mencapai 25,64% pada kondisi kering, 28,07% pada kondisi jenuh, dan 32,78% pada kondisi berbeban. Secara keseluruhan, Metode Janbu memberikan hasil yang lebih konservatif, sedangkan Metode Bishop menghasilkan nilai FoS lebih besar pada seluruh kondisi. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa pemilihan metode analisis harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifikasi desain dan kondisi lapangan dalam penilaian stabilitas lereng JLS Lot 3 Blitar.
Copyrights © 2026