Transformasi gender merupakan fenomena sosial yang semakin mendapat perhatian dalam kajian akademik maupun ruang publik. Bagi kaum transpuan, proses ini tidak hanya menyangkut perubahan fisik, tetapi juga melibatkan dimensi psikologis, sosial, dan politik yang kompleks. Identitas gender mereka sering kali berhadapan dengan norma cisgender yang dominan, sehingga pengalaman transformasi menjadi arena negosiasi antara kenyamanan batin, kejujuran terhadap diri sendiri, serta tuntutan pengakuan sosial.Penelitian ini bertujuan untuk menggali pandangan kaum transpuan mengenai makna transformasi gender berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana identitas gender dibangun, dinegosiasikan, dan dipertahankan dalam konteks sosial yang penuh stigma, serta bagaimana faktor sosial memengaruhi proses tersebut.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian berada di Kota Gorontalo, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus ruang sosial bagi kaum transpuan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan, sehingga menghasilkan pemahaman yang kaya mengenai pengalaman dan refleksi mereka terhadap transformasi gender.Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi gender dimaknai secara multidimensional. Informan pertama menekankan kenyamanan dan hak asasi manusia, informan kedua menyoroti otonomi individu dalam perubahan, sedangkan informan ketiga menekankan ekspresi fisik sebagai representasi identitas. Kesimpulannya, transformasi gender bukan sekadar perubahan estetika tubuh, melainkan proses aktif dan dinamis yang menegaskan autentisitas diri, hak asasi, serta urgensi pengakuan sosial terhadap keberagaman identitas transpuan.
Copyrights © 2026