Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi. Kondisi stunting mencerminkan kegagalan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang serta dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan pola spasial stunting balita di Provinsi Jambi menggunakan pendekatan Bayesian dengan model Conditional Autoregressive (CAR) Leroux, sehingga dapat mengidentifikasi wilayah dengan risiko stunting yang relatif tinggi dan rendah secara lebih akurat. Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2024 yang mencakup jumlah balita usia 0–59 bulan dan jumlah kasus stunting pada 11 kabupaten/kota di Provinsi Jambi, serta beberapa kovariat penjelas, yaitu persentase penduduk miskin, cakupan pemberian ASI eksklusif, dan persentase balita dengan status gizi kurang. Jumlah kasus stunting dimodelkan menggunakan distribusi Poisson dengan memasukkan efek spasial terstruktur untuk menangkap ketergantungan antarwilayah yang bertetangga. Hasil uji Moran’s I menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa wilayah yang berdekatan cenderung memiliki karakteristik kasus stunting yang serupa. Pemilihan model terbaik berdasarkan kriteria Deviance Information Criterion (DIC) dan Watanabe-Akaike Information Criterion (WAIC) menunjukkan bahwa model CAR Leroux dengan hyperprior IG (0,1; 0,1) memberikan kinerja terbaik dibandingkan model alternatif. Estimasi risiko relatif menunjukkan bahwa Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Muaro Jambi memiliki risiko stunting balita yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi, sedangkan Kota Jambi dan Kota Sungai Penuh memiliki risiko yang lebih rendah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan wilayah prioritas intervensi guna mendukung percepatan penurunan stunting pembangunan berkelanjutan
Copyrights © 2026