Kampung Lawas Maspati di Surabaya, Jawa Timur, merupakan contoh penerapan pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas (Community-Based Tourism, CBT) yang berhasil menjaga keseimbangan antara aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Kampung ini dikenal dengan arsitektur tradisional peninggalan kolonial Belanda dan keberhasilan masyarakatnya dalam mengelola lingkungan dan mengembangkan daya tarik wisata berbasis edukasi dan budaya. Konsep CBT yang diterapkan di kampung ini memungkinkan warga lokal untuk berperan aktif dalam pengelolaan destinasi, mulai dari kebersihan lingkungan hingga penyelenggaraan tur sejarah dan pelestarian tradisi lokal. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana mempertahankan keberlanjutan budaya, terutama di kalangan generasi muda, yang terancam oleh modernisasi dan perubahan gaya hidup perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran masyarakat dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan di Kampung Lawas Maspati, serta strategi yang diterapkan untuk menjaga kelestarian budaya melalui regenerasi generasi muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang mengandalkan wawancara mendalam dengan informan kunci dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat, pengelolaan lingkungan yang berbasis pada kesadaran kolektif, serta penerapan teknologi digital untuk promosi menjadi faktor utama dalam keberlanjutan pariwisata di kampung ini. Keberhasilan Kampung Lawas Maspati dalam mengelola pariwisata berbasis komunitas dapat dijadikan model bagi daerah lain di Indonesia yang ingin mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang mengutamakan pelestarian budaya dan kesejahteraan sosial masyarakat lokal.
Copyrights © 2026