Tahun 2023 menandai kemunculan generative Artificial Intelligence (AI) secara masif dalam industri kreatif global, termasuk di Indonesia. Memasuki 2024, pemanfaatan AI tidak hanya terbatas pada ranah kreatif, tetapi juga meluas ke bidang komunikasi publik dan politik, sehingga memicu perdebatan baru mengenai dampaknya terhadap profesi art illustrator. Di satu sisi, sebagian seniman menilai AI dapat berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses produksi, memperkaya eksplorasi gaya visual, dan meningkatkan efisiensi kerja. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan AI berpotensi mengancam orisinalitas karya, menurunkan nilai ekonomi ilustrator, serta menimbulkan persoalan etis dan hukum, terutama terkait hak cipta dan penggunaan karya tanpa izin dalam pelatihan model AI. Perdebatan ini juga terlihat dalam konteks internasional, misalnya kritik dan penolakan sejumlah pihak terhadap praktik pelatihan AI yang memanfaatkan karya-karya studio animasi ternama tanpa persetujuan, termasuk isu yang dikaitkan dengan Studio Ghibli. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui sentimen publik terhadap dampak teknologi AI pada karir art illustrator melalui media sosial X, serta (2) mengevaluasi performa algoritma Support Vector Machine (SVM) dalam mengklasifikasikan sentimen. Penelitian menggunakan metode Knowledge Discovery in Database (KDD) yang diimplementasikan melalui Google Colab dan RapidMiner. Hasil analisis menunjukkan terdapat 249 sentimen positif dan 1.034 sentimen negatif dari total 1.283 data uji. Model SVM menghasilkan performa tinggi dengan accuracy 94,99%, precision 89,35%, recall 85,53%, dan F1-score 87,46%, sehingga efektif untuk mengklasifikasikan sentimen publik terhadap dampak AI pada karir art illustrator.
Copyrights © 2026