Peningkatan inflasi di sektor kesehatan telah menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan operasional rumah sakit, terutama di negara berkembang dengan sistem pembiayaan kesehatan berbasis asuransi sosial seperti Indonesia. Kenaikan harga obat-obatan, alat kesehatan, energi, serta biaya tenaga kesehatan menyebabkan eskalasi biaya operasional yang signifikan. Di sisi lain, tarif pelayanan kesehatan yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan melalui mekanisme Indonesia Case-Based Groups (INA-CBG) cenderung stagnan dan belum sepenuhnya responsif terhadap dinamika biaya riil pelayanan. Ketidakseimbangan ini menempatkan rumah sakit pada posisi dilematis antara menjaga stabilitas finansial dan mempertahankan mutu serta akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi rumah sakit dalam menghadapi tekanan inflasi dan keterbatasan tarif BPJS dengan menggunakan metode ilmiah logico–hypothetico–verifikatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan ilmiah logico–hypothetico–verifikatif melalui kajian literatur terintegrasi dari jurnal ilmiah terindeks Scopus dan buku akademik standar di bidang ekonomi dan manajemen kesehatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa stagnasi tarif BPJS di tengah inflasi berpotensi menurunkan margin operasional rumah sakit, membatasi kapasitas investasi mutu, dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi akses serta kualitas pelayanan kesehatan secara berkelanjutan dan sistemik. Studi ini menegaskan pentingnya penyesuaian kebijakan tarif yang adaptif terhadap inflasi, disertai penguatan strategi efisiensi dan tata kelola rumah sakit, guna menjamin keberlanjutan sistem kesehatan dan pelayanan yang optimal.
Copyrights © 2026