Pandemi Covid-19 memposisikan masyarakat pada margin memprihatinkan, tanpa terkecuali petani minyak kayu putih. Kajian ini berupaya untuk mengeksplorasi jaringan sosial serta kebiasaan makan yang telah ada sebelumnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari kajian menunjukan bahwa pandemi telah merubah jaringan sosial yang terbangun sejak lama menjadi hubungan yang rasional, keterbatasan nafkah membuat petani meninggalkan subsisten dan menggunakan ritme rasional. Konsekuensi dari hubungan yang rasional melahirkan kecurigaan, labil serta saling curiga yang membuka peluang terjadinya konflik. Struktur sosial yang dibentuk oleh hubungan-hubungan emosi cenderung melemah ketika pandemi menjadi sebuah fakta sosial yang memaksa munculnya komformitas dari petani minyak kayu putih. Hasil lain dari kajian ini adalah perubahan kebiasaan makan yang lebih mengedepankan “penyesuaian dan ketesediaan” daripada kebiasaan lama yang berdasar pada budaya lokal. Pilihan rasional yang dilakukan petani minyak kayu putih dalam pemenuhan konsumsi mengakibatkan terjadi peralihan dari tradisional menjadi rasional.
Copyrights © 2025