Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pandangan negatif masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan sebagai kepala sekolah kemudian adanya anggapan bahwa kepala sekolah di sekolah dasar banyak dipimpin perempuan karena banayknya jumlah guru perempuan disbanding guru laki-laki di Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepantasan dan kemampuan perempuan menjadi pemimpin di sekolah dasar. Adapun metode penelitian yang digunakan ialah kuantitatif deskriptif dan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran angket dan wawancara. Teknik analisis data dengan analisis mean dan teknik Milles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan boleh saja menjadi pemimpin karena secara psikologis perempuan memiliki rasa tanggungjawab, kemandirian dan sikap disiplin yang tinggi yang dapat meningkatkan kinerja sebagai kepala sekolah. Kemudian secara Islam perempuan pun dibolehkan menjadi pemimpin secara kontekstual bukan secara normatif karena perempuan dan laki-laki dianggap memiliki kompetensi dan kesempatan yang sama terhadap tindakan dan pekerjaan masing-masing. Selama perempuan mampu dan mau menjadi pemimpin di sekolah dasar maka perempuan pantas untuk mengemban jabatan tersebut. Hal ini membantah budaya patriaki yang selama ini berlaku di Indonesia. Selain itu, perempuan pada zaman sekarang ini lebih mampu menjadi pemimpina sebab banyaknya bantuan teknologi untuk bekerja baik mengerjakan pekerjaan kantor maupun mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Copyrights © 2025