Arsitektur mal kontemporer tidak lagi semata berfungsi sebagai ruang transaksi, tetapi berperan sebagai ruang kota alternatif yang menggabungkan fungsi, estetika, dan interaksi sosial. Namun, penelitian yang memetakan keterhubungan tiga aspek tersebut masih terbatas, terutama dalam konteks mal di Indonesia yang mengalami transformasi cepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bagaimana strategi desain mal modern menyatukan ketiga aspek tersebut dan apa implikasinya terhadap pengalaman ruang pengunjung. Metode penelitian menggunakan kajian literatur yang dipadukan dengan analisis komparatif beberapa studi kasus mal di Indonesia dan luar negeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas tata ruang, penerapan prinsip biophilic, kualitaspencahayaan, serta keberadaan ruang komunal berkontribusi meningkatkan kenyamanan, memperkuat identitas visual, dan mendorong interaksi sosial. Temuan ini menegaskan peran mal sebagai ruang hibrida yang menggantikan sebagian fungsi ruang publik kota. Keterbatasan penelitian ini terletak pada lingkup kajian yang hanya bersifat literatur dan belum dilengkapi observasi lapangan secara mendalam; penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji temuan ini dalam konteks pengguna dan perilaku ruang secara langsung.
Copyrights © 2025