AbstrakPenelitian ini menyoroti tantangan komunikasi yang dihadapi Pemerintah Provinsi Riau dalam meningkatkan partisipasi desa dan kelurahan pada Lomba Desa tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil studi menunjukkan Lomba Desa dan Kelurahan di Provinsi Riau, pada dasarnya memiliki tujuan positif sebagai instrumen evaluasi dan motivasi percepatan pembangunan desa–kelurahan. Namun dalam praktiknya, berbagai tantangan masih muncul, terutama terkait kompleksitas instrumen penilaian, beban administrasi yang tinggi, serta minimnya dukungan pendampingan teknis bagi desa yang memiliki kapasitas rendah. Selain itu, terdapat kesenjangan kesiapan sumber daya antara desa maju dan desa tertinggal yang memengaruhi partisipasi dalam lomba. Hal ini tampak dari alasan beberapa desa yang enggan ikut lomba karena tingginya biaya persiapan dibanding potensi hadiah yang diterima. Di sisi lain, aspek seremonial dalam menyambut tim penilai masih menjadi fokus di tingkat daerah, sehingga sering menimbulkan duplikasi beban pembiayaan dan mengaburkan orientasi utama lomba sebagai evaluasi pembangunan substantif. Kata kunci: Komunikasi Pemerintah, Partisipasi Masyarakat, Lomba Desa AbstractThis study highlights the communication challenges faced by the Riau Provincial Government in increasing village and sub-district participation in the 2025 Village Competition. The study used a qualitative approach with interview and observation techniques. The results show that the Village and Sub-district Competition in Riau Province essentially has a positive objective as an evaluation instrument and motivation to accelerate village development. However, in practice, various obstacles still arise, particularly related to the complexity of the assessment instruments, high administrative burdens, and minimal technical assistance support for villages with low capacity. Furthermore, there is a mismatch in resources between developed and underdeveloped villages that affects participation in the competition. This is evident in the reasons why some villages are reluctant to participate in the competition due to the high preparation costs compared to the potential prizes received. On the other hand, the ceremonial aspect of welcoming the assessment team remains a focus at the regional level, often resulting in duplication of financial burdens and the activation of the competition's primary orientation as a substantive development evaluation. Keywords: Government Communication, Community Participation, Village Competition
Copyrights © 2025