Abstrak Krisis ekologi global merupakan manifestasi dari krisis spiritual yang lebih dalam, berakar pada paradigma modernitas yang sekuler dan antroposentris. Pandangan ini telah mereduksi alam menjadi objek eksploitasi semata, menghilangkan dimensi sakralnya. Tulisan ini menelaah gagasan filsuf Muslim, Seyyed Hossein Nasr, yang menawarkan konsep sakralitas alam sebagai solusi fundamental. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka (library research) dan analisis konten terhadap karya-karya Nasr serta literatur pendukung, jurnal ini menguraikan bagaimana Nasr, melalui kerangka Filsafat Perennial dan ekoteologi Islam, mendiagnosis krisis lingkungan sebagai akibat dari hilangnya pandangan sakral terhadap kosmos. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Nasr mengusulkan "resakralisasi" alam, yaitu memandang alam sebagai ayat kauniyah (tanda-tanda Tuhan) dan teofani dari Sifat-sifat Ilahi, yang berlandaskan pada prinsip Tawhid. Solusi ini memiliki implikasi praktis bagi reformasi pendidikan, kebijakan, dan kesadaran masyarakat dengan mengintegrasikan kembali spiritualitas ke dalam etika lingkungan. Meskipun kuat secara filosofis, implementasi gagasan ini menghadapi tantangan dalam konteks global yang sekuler. Jurnal ini menyimpulkan bahwa pemulihan pandangan sakral terhadap alam adalah prasyarat esensial untuk mengatasi krisis ekologis secara berkelanjutan.
Copyrights © 2025