Reaksi kimia fisika peleburan di dalam tungku listrik induksi tanpa  inti (IF)  dibandingkan  tanur  kupola  dan tungku busur nyala (EAF) tidak terlalu signifikan. IF merupakan pelebur paling ideal selama komposisi muatan terkendali, termasuk  kehandalannya dalam aksi pengadukan leburan membuat tingkat kehomogenan komposisi kimia tuangannya  lebih baik. Emisi gas dan asap yang dihasilkan sangat rendah selama bahan masuk bersih secara fisis. Kesulitannya adalah kepekaannya terhadap kebersihan komposisi, sehingga penggunaan bahan masukan IF lebih terbatas  dibandingkan kupola. Skrap  baja otomotif  dan bahan besi spons (DRI) sulit dilebur di daiam tanur kupola dan IF. Besi wantah merupakan bahan baku siap lebur dengan komposisi besi tuang, sedangkan besi spons adalah bahan dengan  komposisi besi murni ditambah pengotor. EAF merupakan tungku paling sesuai untuk besi spons karena adanya proses reaksi oksidasi dan reduksi, namun EAF sangat boros energi dibandingkan IF. Kemungkinan pergeseran teknologi  peleburan besi dan  baja tuang  di dalam negeri menggunakan IF dan muatan DRI menjadi lebih besar di masa mendatang, terutama dikaitkan dengan kemungkinan penerapan teknologi pembuatan DRI yang lebih sederhana dan dalam skala yang disesuaikan dengan besaran investasi, serta cukup memadainya cadangan bijih besi dan batu bara. Bahasan ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran yang berarti, khususnya bagi pengembangan industri pengecoran di dalam negeri di masa mendatang. Kata  kunci  : tungku listrik induksi tanpa inti, besi wantah, metalurgi terak, metalurgi ladel
Copyrights © 2008