Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada transportasi laut (kapal) dalam mendukung konektivitas dan distribusi logistik nasional. Dalam sistem penggerak kapal, propeller merupakan bagian inti karena berperan sebagai pedorong saat kapal beroperasi. Selain itu, propeller juga rentan mengalami kerusakan akibat kelelahan material, kavitasi, dan beban operasi jangka panjang. Kerusakan pada propeller dapat menurunkan performa kapal, meningkatkan konsumsi bahan bakar, dan berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Tanpa strategi pemeliharaan yang tepat, praktik penggantian propeller secara berulang berpotensi meningkatkan beban emisi dan biaya karbon, sehingga dapat menghambat pencapaian target dekarbonisasi sektor maritim. Kemudian, penggunaan propeller baru menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan akibat proses manufaktur yang bersifat intensif energi dan material. Seiring dengan penerapan carbon pricing dan meningkatnya tuntutan keberlanjutan, diperlukan strategi pemeliharaan propeller yang lebih efisien dan berkelanjutan. Penelitian ini menerapkan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dan memembandingkan dampak lingkungan antara propeller baru dan strategi perbaikan (repair). Hasil analisis menunjukkan bahwa propeller baru menghasilkan dampak lingkungan sebesar 16.962 kg CO₂-eq, sedangkan strategi repair mampu memberikan penghematan emisi sebesar 10.000–12.000 kg CO₂-eq, bergantung pada tingkat kerusakan. Jika dikonversikan ke dalam skema carbon tax sebesar Rp30 per kg CO₂-eq, strategi repair menghasilkan environmental saving cost sebesar Rp305.400–Rp375.180 dibandingkan dengan propeller baru. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa repair propeller tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui penghematan biaya karbon, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih berkelanjutan di industri perkapalan dan galangan kapal terkait strategi pergantian propeller kapal.
Copyrights © 2026