Epilepsi adalah gangguan neurologis yang menyebabkan kejang karena adanya kelainan aktivitas sinkronisasi pada sejumlah besar neuron. Dalam kasus epilepsi, MRI (Magnetic Resonance Imaging) menjadi pilihan utama untuk memeriksa otak karena berbagai kemungkinan penyakit yang mendasarinya. Teknik pencitraan khusus seperti Double Inversion Recovery (DIR) dapat memberikan supresi dari materi putih (myelin) dan cairan serebrospinal, meningkatkan ketajaman gambar dan memungkinkan identifikasi yang lebih baik dari perubahan patologis. Teknik MRI Double Inversion Recovery (DIR) menggunakan langkah ganda pembalikan sinyal untuk mengurangi sinyal dari cairan serebrospinal, memungkinkan identifikasi yang lebih tepat terhadap perubahan patologis dalam jaringan otak. Namun, pemeriksaan dengan Double Inversion Recovery (DIR) dapat memerlukan waktu yang lebih lama dan menghasilkan gambaran yang memerlukan interpretasi lebih teliti. Selain Double Inversion Recovery (DIR), teknik MRI seperti SENSE mempercepat proses pemindaian dengan menggabungkan data dari berbagai saluran koil, meningkatkan kenyamanan pasien, mengurangi durasi pemeriksaan, dan mengurangi risiko gerakan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimen yang dilakukan pada April 2024. Data diolah dengan uji Wilcoxon pada CNR sekuen Double Inversion Recovery (DIR) dengan dan tanpa Sensitivity Encoding (SENSE). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kualitas citra CNR sekuen Double Inversion Recovery (DIR) dengan dan tanpa Sensitivity Encoding (SENSE) dengan p value 0.027. Berdasarkan uji Wilcoxon, nilai mean rank CNR sekuen Double Inversion Recovery (DIR) dengan Sensitivity Encoding (SENSE) sebesar 3.50, sedangkan tanpa Sensitivity Encoding (SENSE) sebesar 0.00. Hasil ini menunjukkan bahwa mean rank pada sekuen DIR dengan SENSE lebih tinggi dibandingkan sekuen Double Inversion Recovery (DIR) tanpa menggunakan Sensitivity Encoding (SENSE).
Copyrights © 2025