Fenomena social comparison atau perbandingan sosial menjadi tantangan serius dalam mewujudkan ketahanan keluarga di era digital. Kecenderungan untuk membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang tampak di media sosial sering kali menimbulkan dampak negatif, terutama dalam konteks rumah tangga. Ketika seseorang, baik suami maupun istri, terlalu sering membandingkan pasangan, penghasilan, gaya hidup, atau pencapaian keluarga lain dengan miliknya, hal ini dapat memicu rasa iri hati, menurunkan harga diri (self-esteem), memperlemah komunikasi, hingga meningkatkan potensi konflik dalam rumah tangga. Pada akhirnya, perbandingan sosial yang tidak sehat ini dapat mengancam keharmonisan, bahkan mengarah pada perceraian. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur dan pendekatan tafsir tahlili, artikel ini mengkaji fenomena social comparison dalam perspektif Al-Qur’an, khususnya melalui analisis terhadap QS. An-Nisa: 32. Ayat tersebut menekankan larangan iri hati terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain, serta mendorong umat untuk fokus pada usaha dan doa sebagai jalan meraih keberkahan hidup. Kemudian penulis juga membahas bagaimana nilai-nilai Islam seperti syukur dan qana’ah dapat menjadi fondasi spiritual dalam membangun rumah tangga yang harmonis (baiti jannati). Penanaman sikap ini diyakini mampu meredam dampak negatif budaya digital dan memperkuat ketahanan keluarga. Dengan demikian, menjauhi iri hati dalam perbandingan sosial adalah kunci penting untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh rahmah di tengah derasnya arus informasi dan citra semu di media sosial.
Copyrights © 2025