Artikel ini mengkaji pemikiran Majid Daneshgar dalam bukunya Studying the Qur’an in the Muslim Academy (2020) yang menyoroti dominasi kecenderungan apologetik dalam studi al-Qur’an kontemporer. Menurut Daneshgar, banyak akademisi Muslim masih terjebak pada pola pembacaan defensif yang lebih berorientasi pada pembelaan dogmatis dibanding pada pengembangan tradisi ilmiah yang kritis dan reflektif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan analisis deskriptif-kritis menelaah pandangan Daneshgar terhadap kecenderungan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan apologetik cenderung melahirkan stagnasi intelektual dan menutup ruang dialog metodologis dalam studi Qur’an. Pendekatan Daneshgar yakni menekankan pentingnya perspektif historis-kritis dalam studi Qur’an dirasa penting untuk menjembatani tradisi keilmuan Islam dengan metodologi modern, tanpa menegasikan nilai spiritual wahyu. Dialektika antara tradisi dan modernitas yang ditawarkan Daneshgar membuka peluang bagi transformasi epistemologis menuju kajian Qur’an yang lebih terbuka, reflektif, dan interdisipliner.
Copyrights © 2025