Studi ini mengkaji bagaimana perencanaan ruang kolonial Belanda membentuk identitas perkotaan dan hierarki sosial di permukiman hinterland Trimurjo–Metro, Lampung, antara 1935 dan 1942. Dengan desain studi kasus historis, penelitian ini menganalisis arsip kolonial Belanda, laporan resmi, surat kabar, dan peta melalui kerangka teoretis terpadu: produksi ruang Lefebvre, biopolitik Foucault, dan dualisme kota kolonial King. Temuan menunjukkan tatanan sosio-spasial yang sengaja disegregasi: permukiman migran Jawa terintegrasi dengan infrastruktur modern dan jaringan administratif, sementara komunitas asli Lampung secara sistematis terpinggirkan ke zona pinggiran. Rekayasa ruang ini berfungsi sebagai instrumen utama kekuasaan dan pembentukan identitas kolonial. Studi menyimpulkan bahwa desain perkotaan kolonial di wilayah hinterland merupakan alat politik yang kuat untuk menciptakan hierarki sosial melalui segregasi terencana. Kontribusi studi terletak pada penekanan peran perencanaan ruang dalam konstruksi identitas di luar kota-kota pelabuhan besar, sekaligus menegaskan kebutuhan penelitian sejarah lisan untuk melengkapi perspektif arsip.
Copyrights © 2025