Penelitian ini menganalisis pola pengeluaran mahasiswa berdasarkan status pernikahan dan semester. Survei terhadap 27 mahasiswa menunjukkan bahwa status pernikahan dan semester berpengaruh signifikan terhadap besarnya pengeluaran. Mahasiswa menikah memiliki pengeluaran lebih tinggi (Rp4,17 juta/bulan) dibandingkan mahasiswa belum menikah (Rp1,5–2,1 juta/bulan). Beban akademik meningkat di semester akhir, sementara mahasiswa menikah menanggung biaya tambahan yang menyerupai pola pengeluaran mahasiswa tingkat akhir. Faktor utama pengeluaran adalah status pernikahan dan semester, dengan fokus berbeda: semester awal pada kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, semester tengah pada hiburan, dan semester akhir pada kebutuhan akademik. Temuan ini memberikan wawasan mengenai pengelolaan keuangan mahasiswa serta menunjukkan pentingnya literasi keuangan untuk menekan pengeluaran konsumtif. Dengan memahami pola pengeluaran, mahasiswa dapat mengelola keuangan lebih efektif, sementara institusi pendidikan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam merancang program literasi keuangan.
Copyrights © 2026