Persoalan kerusakan ekologi bukan hanya terjadi atas reaksi aktivitas perubahan alam melainkan juga kerusakan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini dapat menunjukkan bahwa kerusakan bukan hanya dari internal alam tapi dari manusianya. Untuk mencegah hal ini terus berulang diperlukan kesadaran tentang pemeliharaan keseimbangan alam dan keseimbangan sosial. Hal ini dapat terwujud jika akal dan nafsu dapat dikendalikan dan mengindahkan asas keseimbangan dan menghindari kerusakan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis QS. Ar Rum ayat 41 dengan menggunakan metode hermeneutika Friedrich Schleiermacher guna mengungkap pesan tersembunyi teks terkait krisis ekologis. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan metode tafsir tematik-hermeneutik. Hasil kajian menunjukkan bahwa QS. Ar Rum : 41 tidak hanya berbicara tentang kerusakan moral dan sosial, tetapi juga memuat kritik ekologis yang bersifat transhistoris. Melalui analisis gramatikal dan psikologis, ayat ini menegaskan relasi kausal antara tindakan manusia dan kerusakan alam sebagai bentuk peringatan ilahiah agar manusia kembali pada etika keseimbangan kosmik. Artikel ini menegaskan relevansi Al-Qur'an sebagai sumber etika lingkungan dalam menghadapi krisis ekologi global.
Copyrights © 2025