Kepulauan Riau (Kepri) adalah episentrum budaya Melayu yang kaya dengan nilai-nilai luhur, namun era digital telah menciptakan krisis internalisasi budaya di kalangan remaja, yang merupakan digital native. Kurangnya literasi digital membuat remaja Kepri lebih rentan terhadap arus budaya global dan konten yang tidak tersaring, yang mengancam pelestarian nilai-nilai Melayu seperti kesantunan, tatasusila, kolektivitas, dan pemahaman agama yang moderat. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk mengatasi tantangan tersebut dengan mengintegrasikan pelatihan literasi digital dan internalisasi nilai budaya Melayu. Metode yang digunakan adalah Service-Learning (SL) dengan siklus: Persiapan, Aksi/Pelaksanaan, Refleksi, dan Demonstrasi/Publikasi. Pelaksanaan melibatkan tiga sesi utama: Literasi Digital (cek fakta, etika digital), Internalisasi Nilai Budaya Melayu (workshop pantun, gurindam, tunjuk ajar Melayu), dan Sesi Integrasi (pelatihan content creation berbasis kearifan lokal seperti video TikTok/Reels). Program ini didasarkan pada teori critical digital literacy dan Participatory Digital Storytelling. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sosialisasi literasi digital yang dikaitkan dengan konteks budaya lokal efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja masjid mengenai penggunaan teknologi informasi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Program ini juga meningkatkan kemampuan remaja untuk mengenali dan mencegah penyalahgunaan media sosial. Selain itu, pelatihan pembuatan konten kreatif berbasis kearifan lokal berhasil mengubah remaja dari konsumen informasi menjadi produsen konten dakwah dan edukasi, membuktikan potensi mereka dalam melestarikan identitas budaya Melayu di ruang digital.
Copyrights © 2025