Perkembangan pesat komunikasi digital melalui platform media sosial, khususnya Instagram, telah meningkatkan potensi ancaman terhadap privasi pengguna di Indonesia, seperti phishing, credential stuffing, dan akses tidak sah. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan autentikasi dua faktor (Two-Factor Authentication/2FA) sebagai mekanisme keamanan berlapis dalam melindungi privasi komunikasi digital pada Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan mengombinasikan survei kuantitatif terhadap 200 pengguna aktif Instagram berusia 18–35 tahun di wilayah Aceh dan Jawa, serta analisis kualitatif melalui simulasi serangan keamanan pada 50 akun uji dengan variasi konfigurasi 2FA, meliputi OTP berbasis SMS, aplikasi autentikator, dan autentikasi biometrik. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner berskala Likert untuk mengukur persepsi keamanan pengguna, serta pemanfaatan tools OWASP ZAP dalam mensimulasikan serangan brute-force dan man-in-the-middle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan 2FA mampu menurunkan tingkat keberhasilan intrusi sebesar 85–92%, dengan kombinasi OTP SMS dan autentikasi berbasis aplikasi sebagai metode paling efektif dengan tingkat efikasi mencapai 91% dibandingkan autentikasi satu faktor. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa kendala, seperti risiko SIM swapping dan kelelahan pengguna dalam pengelolaan kode OTP, yang dilaporkan oleh 32% responden. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya penerapan model keamanan defense-in-depth melalui integrasi enkripsi end-to-end dan verifikasi biometrik. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi bagi pengembang platform dan regulator dalam merumuskan kebijakan keamanan digital serta meningkatkan literasi keamanan siber di Indonesia.
Copyrights © 2026