Sebagai instrumen verifikasi utama dalam tradisi Islam, Ilmu Rijāl al-Ḥadīṡ dan Jarḥ wa Taʿdīl berfungsi menakar kredibilitas perawi demi menjamin validitas sanad. Namun, eksistensi kedua disiplin ini kerap dipertanyakan oleh kesarjanaan kontemporer yang lebih condong pada pendekatan sosio-historis, di mana metode klasik sering dianggap terlalu normatif dan abai terhadap konteks zaman. Melalui studi kepustakaan kritis, tulisan ini membedah kembali urgensi metode klasik tersebut di tengah arus kritik modern. Analisis menunjukkan bahwa alih-alih menjadi artefak usang, perangkat metodologi lama ini justru menawarkan landasan epistemologis yang vital bagi otentisitas hadis yang tidak tergantikan oleh analisis sejarah semata. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan tradisional tidak seharusnya dibenturkan dengan metode baru. Sebaliknya, integrasi antara ketelitian verifikasi sanad klasik dan pisau analisis kritis modern justru berpotensi melahirkan kajian hadis yang jauh lebih holistik, objektif, dan komprehensif dalam memadukan teks wahyu dengan dinamika sejarah
Copyrights © 2026