Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam nilai-nilai etika pengasuhan yang terwujud dalam corak kepemimpinan perempuan Jawa, sebagaimana ditampilkan dalam karya monumental Peter Carey, Perempuan-perempuan Perkasa: di Jawa Abad XVIII–XIX. Melalui pendekatan hermeneutik-filosofis, penelitian ini membaca karya Carey bukan sekadar sebagai teks sejarah yang merekonstruksi masa lalu, melainkan sebagai narasi moral yang kaya akan makna filosofis, memuat nilai-nilai kebajikan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial dalam konteks budaya Jawa yang kompleks. Kerangka teoritis yang digunakan mengintegrasikan dua tradisi pemikiran besar: filsafat pembimbingan humanistik, dengan penekanan pada konsep aktualisasi diri, empati, dan penerimaan tanpa syarat dari Carl Rogers dan Abraham Maslow; serta etika kebajikan Islam, yang berfokus pada pembentukan karakter (tahdzÄ«b al-akhlÄq) dan keseimbangan jiwa (rahmah dan ‘adl) sebagaimana digagas oleh Al-Ghazali dan Ibn Miskawayh. Hasil kajian menunjukkan bahwa etika pengasuhan yang dijalankan oleh figur-figur perempuan sentral seperti Ratu Ageng Tegalrejo dan Ratu Bendara berakar pada keseimbangan dinamis antara akal (‘aql), kasih sayang (rahmah), dan tanggung jawab sosial (‘adl). Etika ini membentuk dasar kepemimpinan moral yang menekankan empati mendalam, kebijaksanaan praktis (hikmah amaliyah), dan keadilan yang berimbang. Mereka menampilkan suatu bentuk maternal virtue leadership yang tidak hanya efektif dalam lingkup domestik, tetapi juga transformatif dalam ranah publik dan sosial. Penelitian ini menawarkan pembacaan baru terhadap sejarah perempuan Jawa, menempatkan mereka sebagai subjek moral yang aktif, melalui perspektif filsafat moral lintas tradisi yang relevan dan memberikan kontribusi signifikan bagi wacana kepemimpinan etis kontemporer di tengah tantangan global
Copyrights © 2025