Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh digitalisasi serta variabel makroekonomi terhadap food resilience lokal, dengan fokus pada produksi ubi jalar di Indonesia. Analisis menggunakan panel data 34 provinsi periode 2020–2022, memungkinkan observasi simultan lintas waktu dan ruang untuk estimasi ekonometrik lebih robust. Data bersumber dari BPS, APJII, BDSP, dan Kementerian Pertanian RI, mencakup household internet access, economic growth per province, internet penetration, serta ubi jalar output. Temuan mengindikasikan bahwa produksi ubi jalar bersifat subsisten; inflasi dan akses internet rumah tangga tidak memberikan dampak signifikan. Digitalisasi belum mampu mengakselerasi produktivitas karena literacy digital rendah dan penggunaan internet untuk manajemen pertanian, knowledge acquisition, maupun marketing masih minim. Selain itu, pertumbuhan PDRB justru berasosiasi negatif dengan output ubi jalar, kemungkinan akibat land conversion dan migrasi tenaga kerja dari agrikultur. Temuan ini menegaskan bahwa digital adoption dan economic expansion tidak otomatis memperkuat ketahanan pangan lokal tanpa policy intervention, peningkatan digital literacy, dan perlindungan sektor pertanian.
Copyrights © 2026