Buku ini adalah suatu kenang-kenangan bagi Asvi Warman Adam yang telah memasuki masa purna tugas sebagai profesor riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia adalah, mungkin, salah seorang sejarawan yang sangat dikenal dan muncul di dalam media cetak maupun daring. Sebagai seorang ilmuwan (sejarawan) Asvi sangat aktif menyerukan apa yang disebutnya “pelurusan sejarah’, baik dalam forum akademik maupun publik. Adrian Vickers, penulis buku “Sejarah Indonesia Modern” malah pernah menyebutnya sebagai “komentator utama Indonesia tentang kontroversi sejarah. “Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia” terdiri atas satu bagian pengantar yang ditulis oleh Didi Kwartanada; bagian satu, bergerak bersama Yayasan Nabil; bagian dua, memasukan Tionghoa dalam pengajaran sejarah Indonesia; bagian tiga, Mengangkat Tionghoa ke dalam sejarah Indonesia; bagian empat, Melihat Tionghoa di berbagai wilayah Indonesia. Tulisan-tulisan itu terdiri berbagai format seperti makalah yang dipresentasikan dalam berbagai seminar, esai dan artikel populer yang terbit di media massa, atau bab dalam bunga rampai. Terdapat kesulitan untuk merangkum tulisan-tulisan Asvi Warman Adam dalam “Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia” karena luasnya cakupan tema-tema yang telah ia tuliskan, dan saya merasa akan lebih mudah untuk mendiskusikan salah satu atau beberapa topik secara lebih dalam. Dengan kata lain, tulisan-tulisan ini bisa saja menjadi ‘pintu gerbang’ atau semacam inspirasi bagi seseorang untuk mendalami lebih dalam dari tema-tema yang telah dirintis oleh Asvi
Copyrights © 2025