Perkembangan ekonomi kreatif di Kota Surakarta menunjukkan potensi signifikan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi berbasis budaya dan komunitas, namun belum sepenuhnya didukung oleh ketersediaan ruang kolaboratif yang memadai. Keterbatasan fasilitas kreatif yang mampu mengakomodasi interaksi, kolaborasi, serta proses kreatif lintas subsektor menjadi permasalahan utama dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif lokal. Oleh karena itu, diperlukan perancangan Creative Hub di Surakarta yang tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas fisik, tetapi juga mampu membentuk pola interaksi dan perilaku kreatif yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahapan identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis, dan perumusan konsep. Pendekatan Arsitektur Perilaku dipilih untuk memahami hubungan antara ruang dan perilaku pengguna melalui aspek persepsi, kognisi, personal space, serta interaksi social. Hasil kajian berupa perumusan konsep pengolahan tapak, peruangan, massa dan tampilan, struktur dan utilitas bangunan Creative Hub dengan penerapan prinsip-prinsip Arsitektur Perilaku.
Copyrights © 2025