Menganalisis kelayakan dan nilai tambah usaha sarabba bubuk, minuman tradisional berbahan dasar jahe khas Sulawesi di Dusun Leon, Desa Rosoan, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang. Fokus utama penelitian adalah untuk mengetahui biaya, penerimaan dan pendapatan dari usaha sarabba bubuk apakah layak secara ekonomis serta mengetahui nilai tambah (value added) dari produk yang dihasilkan. Aspek Finansial Usaha berkaitan dengan penentuan kebutuhan jumlah dana dan sekaligus alokasinya adapun komponen yang diperlukan dalam penyusunan analisis ekonomi finansial meliputi, Asumsi dasar Perhitungan, Kapasitas Produksi, dan Analisis Biaya. Metode penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari responden penelitian dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel yang digunakakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah metode pengambilan sampel diambil berdasarkan kriteria tertentu dan secara non acak sesuai tujuan penelitian. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui nilai tambah dari suatu produk digunakan analasis nilai tambah dengan menggunakan metode hayami. Kemudian dalam menentukan keayakan usaha sarabba bubuk menngunakan dua metode yaitu R/C Ratio (Revenue Cost Ratio) dan BEP (Break Event Point). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai tambah sebesar Rp. 54.231 per kg dengan rasio nilai tambah 58,75 % yang berada pada indikator rasio tinggi yakni > 40 % yang artinya bahwa terjadi peningkatan nilai tambah yang relatif tinggi. Mengenai analasis kelayakan, diperoleh hasil R/C Ratio sebesar 1,72, yang artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1,00 maka pelaku usaha sarabba bubuk akan mendapat penerimaan sebesar Rp 1,72. Kemudian dari sisi analisis BEP diperoleh BEP Unit (kg) sebesar 3,98 kg dan BEP harga sebesar Rp 398.106 yang artinya usaha ini berada pada titik impas
Copyrights © 2025