Penelitian ini mengkaji hubungan antara tingkat literasi digital dan pola perilaku pengguna media sosial, khususnya TikTok. Pesatnya perkembangan teknologi membawa masyarakat ke era digital yang ditandai kemudahan akses informasi dan meningkatnya interaksi daring. Data APJII 2025 mencatat 229 juta pengguna internet aktif di media sosial, dengan TikTok sebagai platform berakses tertinggi, sehingga menjadi ruang utama untuk hiburan, komunikasi, dan penyebaran informasi. Namun, tingginya penggunaan TikTok tidak selalu disertai kemampuan pengguna memahami dan menilai informasi secara kritis. Literasi digital meliputi keterampilan teknis, berpikir kritis, kemampuan memilah informasi, serta pemahaman keamanan digital adalah prasyarat untuk menavigasi ruang digital secara aman dan produktif. Rendahnya literasi digital berpotensi memicu perilaku negatif seperti mudah percaya hoaks, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, mengikuti tren tanpa pertimbangan matang, serta kecenderungan adiktif. Survei menunjukkan proporsi paparan hoaks yang signifikan di masyarakat, dan sebagian pengguna pernah ikut menyebarkan informasi palsu karena lemahnya verifikasi. Kajian literatur menunjukkan literasi digital pengguna TikTok umumnya pada tingkat sedang: keterampilan teknis relatif tinggi terutama di kalangan remaja dan mahasiswa, tetapi literasi kritis masih perlu peningkatan. Ketimpangan ini mendorong perilaku impulsif, konsumsi cepat konten, dan kerentanan terhadap konten manipulatif. Sebaliknya, pengguna dengan literasi digital tinggi cenderung lebih selektif, bertanggung jawab, dan etis. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan literasi digital merupakan kebutuhan strategis untuk membentuk pola perilaku pengguna yang lebih sehat dan mendukung terciptanya ekosistem digital yang aman dan berkualitas.
Copyrights © 2025