Konflik ideologis dan politik yang direpresentasikan dalam drama sering kali membentuk relasi kuasa dan subjektivitas tokoh melalui bahasa dan wacana. Dalam konteks itu, analisis relasi kuasa menjadi penting untuk menyingkap bagaimana kebenaran dan identitas politik dikonstruksikan secara naratif. Penelitian ini bertujuan mengungkap pola relasi kuasa dan pembentukan subjektivitas dalam drama ‘Audatul Firdaus karya Ali Ahmad Bakatsir. Data penelitian berupa tuturan dialog dalam teks drama yang dianalisis menggunakan pendekatan relasi kuasa Foucault (1980) dengan tiga konsep utama: relasi kuasa, rezim kebenaran, dan subjektivitas melalui piranti lunak AntConc 3.5.9. Hasil penelitian menunjukkan tiga bentuk relasi kuasa, yaitu (1) diplomasi sebagai mekanisme produksi kebenaran, (2) revolusi sebagai wacana perlawanan dan kuasa tubuh, dan (3) relasi kuasa yang membentuk subjektivitas tokoh. Temuan subjektivitas menunjukkan bahwa Soekarno memproduksi kebenaran melalui pengetahuan politik, Majid mereproduksinya melalui ketaatan, Syahrir menegosiasikannya melalui rasionalitas, sedangkan Sulaiman membangun resistensi melalui moralitas jihad. Pemetaan interaksi keempat tokoh memperlihatkan bahwa kekuasaan dalam ‘Audatul Firdaus bersifat sirkuler dan produktif, bukan represif. Penelitian ini berkontribusi pada kajian wacana politik dalam sastra Arab modern dengan menunjukkan bagaimana drama dapat merepresentasikan pertarungan kuasa dan produksi kebenaran secara naratif.
Copyrights © 2026