Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara manusia memproduksi, mengonsumsi, dan memaknai informasi. Media sosial tidak lagi sekadar ruang komunikasi interpersonal, melainkan telah bertransformasi menjadi infrastruktur utama pembentukan opini publik. Platform seperti TikTok, X (Twitter), Instagram, dan Facebook berfungsi sebagai mesin distribusi makna yang bekerja melalui algoritma, data, dan logika keterlibatan (engagement). Dalam ekosistem inilah muncul dan menguat fenomena herd effect—kecenderungan individu mengikuti opini mayoritas tanpa proses verifikasi rasional. Di ruang digital, viralitas sering dipersepsikan sebagai indikator kebenaran, popularitas disamakan dengan legitimasi, dan konsensus semu dianggap sebagai keadilan kolektif. Akibatnya, nalar kritis dan penilaian berbasis data kerap tergeser oleh kecepatan, emosi, dan tekanan sosial. Fenomena ini menimbulkan risiko serius bagi kualitas demokrasi, literasi publik, serta proses pengambilan kebijakan. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar bagaimana informasi menyebar, melainkan siapa dan apa yang mengendalikan cara masyarakat berpikir di era algoritmik.
Copyrights © 2025