Shuttle Jamming atau teropong nabrak merupakan salah satu cacat dominan pada proses pertenunan dengan mesin shuttle di PT Sekar Lima Pratama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi tinggi kamran terhadap frekuensi terjadinya cacat tersebut, sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap jumlah putus lusi. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan tiga variasi tinggi kamran, yaitu 9 cm, 10 cm, dan 11 cm pada mesin shuttle RRC tipe GA615075. Observasi dilakukan selama tiga shift produksi (A, B, dan C) untuk setiap variasi tinggi kamran. Hasil menunjukkan bahwa pengaturan tinggi kamran 10 cm menghasilkan jumlah cacat teropong nabrak paling sedikit, yaitu 10 kejadian, dengan tingkat putus lusi yang relatif lebih tinggi dibandingkan variasi 9 cm namun masih dalam batas yang dapat diterima. Kondisi ini menciptakan pembukaan mulut lusi yang lebih stabil sehingga pergerakan shuttle menjadi optimal. Penelitian ini merekomendasikan tinggi kamran 10 cm sebagai standar operasional yang seimbang untuk meminimalkan teropong nabrak sekaligus menjaga kestabilan benang lusi dalam proses produksi.
Copyrights © 2025